Kearifan Lokal Ditinggalkan

Dahulu orang Banjar khususnya yang bertempat tinggal disepanjang sungai membangun rumah pasti menghadap kesungai dan selalu berada diseberang jalan (tidak dipinggir atau dibibir sungai). Hal itu dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan rumah orang terdahulu yang selalu berada sedikit menjorok kedalam yang dibatasi dengan jalan. Sebagai contoh rumah-rumah “tua” yang ada disepanjang jalan pangeran atau tepatnya disepanjang kelurahan pangeran Banjarmasin Utara.

Pendirian rumah tersebut yang berada menjorok kedalam dari sungai diharapkan supaya tidak terjadi penyempitan sungai atau mencegah adanya pembuangan sampah langsung kesungai. Seiring dengan berjalannya waktu dan pesatnya jumlah pertambahan penduduk, orang Banjar mendirikan rumah tidak lagi memperhatikan hal diatas. Sebagai contoh banyaknya pendirian rumah yang memakan badan sungai dan ada sebagian rumah yang bangunan keseluruhan berada persis diatas bibir sungai .seperti yang ada disepanjang sungai pangeran bahkan diseluruh sungai-sungai kecil yang ada di Banjarmasin.

Pendirian rumah yang tidak memperhitungkan keselarasan dengan lingkungan tersebut banyak membuat permasalahan-permasalahan yang terjadi pada akhir-akhir ini, diantaranya penyempitan sungai sedikit demi sedikit bahkan membuat transportasi sungai menjadi terganggu karena penyempitan luas sungai tersebut.

Padahal Pemerintah Kota Banjarmasin mempunyai peraturan daerah yang mengatur tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tetapi dalam kenyataannya bangunan yang ada (rumah-rumah) di Banjarmasin khususnya yang ada disepanjang sungai sangat semeraut. Dalam hal ini siapa yang patut disalahkan, pemerintah kota atau masyarakatnya?

Kalau dilihat dari banyaknya rumah-rumah yang didirikan oleh masyarakat yang tidak memperhatikan sanitasi lingkungan, maka yang harus bertanggng jawab adalah pemerintah kota karena pada awal mendirikan rumah para masyarakat tidak mendapat teguran. Disisi lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana pendirian rumah yang serasi dengan lingkungan, tetapi disisi lain banyaknya masyarakat yang kurang tahu tentang syarat-syarat pendirian rumah yang serasi dengan lingkungannya akibat dari kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah setempat. Kurangnya sosialisai oleh pemrintah kota setempat juga dapat dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui IMB bahkan dalam pendirian rumahnya tidak membuat IMB terlebih dahulu.

Kalau masalah tersebut dibiarkan maka banyakl sungai-sungai yang ada bi Banjarmasin yang menyempit bahkan menjadi mati. Sebagai contoh sungai yang ada dikelurahan Alalak utara yang dulunya mengalir menjadi mati akibat banyaknya pendirian perumahan-perumahan pada beberapa tahun sekarang ini. Contoh lain adalah sungai alalak yang sekarang jauh menjadi sempit karena banyaknya pembangunan rumah ditamabah dengan banyaknya sampah-sampah berupa potongan-potongan kayu yqang berasal dari penggergajian-penggergajian yang ada didaerah tersebut.

Untuk itu kepada pemerintah kota Banjarmasin supaya memperhatikan masalah ini karena dari dahulu sampai sekarang (tidak tahu masih apa ngga) kota Banjarmasin mendapat julukan kota seribu sungai dan jangan sampai julukan tersebut menjadi kota seratus sungai karena banyk sungai-sungai yang mati karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pendirian sungai. Selain itu supaya para pengusaha pengembang-pengembang perumahan dalam mendirikan komplek-komplek perumahan agar tidak membuat sungai-sungai kecil menjadi mati.

Iklan

1 Komentar

  1. Suku Berangas sebetulnya terpisah dari Suku Banjar. Sebab, suku ini berdiri sendiri, namun masih terkait dengan Suku Dayak, sebagai induk suku asli kalimantan. Dalam sejarahnya, Suku Berangas (Dayak Ngaju) yang pertama kali atau setidaknya salah satu suku penyokong terbentuknya Kerajaan Banjar. Sebab, istilah Bandarmasih atau Kotanya orang Melayu itu berasal dari bahasa Berangas. Karena, menurut penuturan orang-orang terdahulu, dibangunnya Kuin yang mengutip asal kata Belanda, berarti ratu itu, adalah nama yang terbaru.
    Bagi orang Berangas, kerajaan Banjar itu tak lepas dari Kerajaan Kampung Labat (salah satu situs kerajaan kecil Suku Berangas) yang turut bergabung (afiiliasi) dengan kerajaan yang didirikan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah (ketika memeluk agama Islam).
    Seperti dituturkan pedatuan di Berangas, Orang Kuin sering menyebut Ngaju itu adalah orang Berangas, bukan Ngaju dari artinya orang Dayak di Kalteng. Sebab, ngaju juga bisa mengandung arti ujung, atau orang dari jauh.
    Anda bisa lebih mendalami ritus atau ritual Orang Berangas yang dipengaruhi dua kultur (Dayak dan Banjar), seperti Pidaraan, Sangga Kebun, serta alat-alat pertanian. Sayang, Berangas kini tergerus dengan kebijakan yang tak menghormati kearifan lokal.

    Didi, yang datuknya masih mengalir darah Dayak dan Banjar


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s