JEPANG PADA MASA AWAL

Pandangan pertama tentang bangsa Jepang di berikan oleh catatan-catatan Cina pada abad ke-3 Masehi. Dimana dalam catatan ini di gambarkan bahwa masyarakat Jepang di bagi dalam kelas-kelas dan mata pencaharian mereka adalah petani dan nelayan.

Mulai pada abad ke-2 Masehi,Jepang sudah di serbu oleh para penunggang kuda dari semenanjung korea atau pengaruh-pengaruh kebudayaan dari korea. Selama 3 abad berikutnya kekuasaan yang di dasarkan pada pemilikan tanah tetap dibawah penguasaan satuan-satuan suku yang semi otonom yang dinamakan UJI yang mempunyai hubungan dengan kelompok Yamato yang berkuasa oleh kaitan-kaitan mitologi. Praktek keagamaan bangsa Jepang awal ini bernama Shinto,                  ”Jalan Para Dewa” untuk membedakan dengan agama Budha.

Sudah sejak abad ke-6 terdapat arus pengaruh-pengaruh kebudayaan yang hebat ke jepang dari benua yang ada di dekatnya. Pertanian,perunggu dan besi adalah sebagian contoh kecil. Sementara Istana Yamato mulai di serbu oleh kepercayaan dan citra agama Budha sebagai sistim magis dari kekuatan yang sama.para pendukung agama budha menang dan satu generasi kemudian,pangeran Shotoku dari tahun 593 sampai 622 M, menjadi wali pemerintahan membela agama Budha.

Bangsa Jepang juga menerima konsep Monarkhi dari Cina, yang berusaha menjadikan pemimpinnya setengah suci sebagai penguasa secular tipe Cina. Sejak itu kaisar jepang dalam teori memiliki watak dan fungsi rangkap, menjadi pemimpin agama pemuja Shinto dan raja secular Negara tipe Cina. Tetapi dalam kenyataannya, kaisar-kaisar jepang mulai abad ke-7 sampai sekarang hanya sebagai lambang kekuasaan.

Pada abad ke-12 dijepang berkembang suatu sistim feodal dan akan berjalan selama 7 abad. Penduduk pulau yang bersifat kesukuan telah menerima              pranata-pranata politik dan sistim tanah pada kerajaan Cina. Dalam masa ini percampuran unsure-unsur budaya saling mempengaruhi yang menimbulkan suatu sistim politik yang rumit. Berdasarkan ikatan-ikatan kesetiaan pribadi dan peleburan kekuasaan umum hak-hak pribadi atas tanah.

 

 

 

Para prajurit yang dikenal dengan istilah Samurai atau pengabdi, meletakkan tekanan utama pada kebijakan militer  tentang keberanian,kehormatan,disiplin diri dan penerimaan maut secara tabah. Hirarkiri atau membelah perut lebih tepat di sebut Seppuku,merupakan bentuk bunuh diri secara terhormat,untuk memperlihatkan kekuatan, kemauan dan mempertahankan kehormatan telah dapat bertahan sampai zaman modern. Dalam masyarakat feodal Jepang berbeda dari masyarakat feodal Eropa dalam dua cara pengungkapan, yaitu :

1.      Di Jepang tidak ada kultus kekesatriaan yang memuja kaum wanita secara romantis.walaupun sebagai makhluk rawan,rendah. Para prajurit jepang mengharapkan para wanita sama kuat dengan mereka dan menerima pembinaan diri demi kesetiaan kepada tuan atau keluarga.

2.      Para prajurit Jepang, walaupun sebagai orang bersenjata tidak memandang rendah, seperti yang di tunjukan oleh Aristokrat Barat, terhadap pengetahuan dan seni kaligrafi yang indan dan keahlian puitisnya.

Selama abad 16 suatu tipe-tipe baru daerah-daerah feodal yang terorganisir secara ketat yang lebih efisien tumbuh melalui penggabungan dan penaklukan sehingga pada akhir abad ini Jepang telah bersatu secara politis. Munculnya orang Eropa pada waktu itu telah membantu proses penyatuan, karma mereka turut membawa teknologi militer  dan agama yang baru bagi rakyat jepang. Sebenarnya yang memiliki kekuasaan tertinggi di Jepang adalah kaisar yang lazim dikenal sebagai Tenno Heika. Akan tetapi mulai abad 12 kekuasan de facto berada dalam tangan Shogun (Jendral) dan mulailah periode yang dikenal dengan nama Feodalisme Militer yang berlangsung sampai pertengahan abad ke-19. dan pada tahun 1600 yang memegang kekuasaan de facto adalah keluarga Shogun Tokugawa yang berkedudukan di Edo ( Tokyo sekarang). Penyatuan jepang secara politis sebagian besar adalah jerih payah tiga orang pemimpin militer yang berturut-turut. Yang pertama adalah Oda Nobunaga, merebut Kyoto dalam tahun 1568, pura-pura menyokong Shogun dan kemudian menaklukan tuan-tuan yang lebih kecil di Jepang tengah serta menghancurkan biara Budha. Setelah Nobunaga terbunuh tahun 1582 kedudukannya diserahkan pada Jendralnya yaitu Hideyoshi. Pada tahun 1590Hideyoshi menetapkan kekuasaannya pada seluruh Negara dengan membinasakan saingannya dan memaksa mereka menjadi anteknya. Karena Hideyoshi tidak meninggalkan ahliwaris yang dewasa maka timbul perebutan kekuasaan setelah ia tutup usia.

Yang menjadi pemenang dalam pertempuran tahun 1600 adalah Tokugawa Leyasu. Sistim pertanian yang alamiah dari suatu masyarakat feodal menghasilkan ironi yang aneh selama masa Tokugawa. Pimpinan politik yang menarik dan menetapkan pajak secara tidak langsung dan ringan  bersamaan dengan integrasi seluruh Negara memungkinkan berkembangnya kelas pedagang kota yang makmur. Berbagai daerah demikian pula para samurai pembantunya yang terikat pada pendapatan yang di tentukan dalam beras dari pajak pertanian,makin jatuh dalam utang kepada para pedagang kota. Keadaan ini menggerogoti seluruh sistim Tokugawa karena dalam teorinya masyarakat terbagi dalam 4 kelas yaitu:

1.      Prajurit penguasa.

2.      Petani yang menjadi produsen utama kekayaan.

3.      Pengrajin yang menjadi produsen utama kekayan.

4.      Pedagang.

Konsep pembagian masyarakat dalam 4 jalur ini adalah pinjaman dari pemikiran Cina awal,tetapi sangat wajar bagi sistim feodal.

Isolasi jepang dari dunia luar dan lamanya perdamaian, stabilitas serta pertumbuhan ekonomi masa Tokugawa menyebabkan ledakan budaya. Begitu banyak aliran Kong Fu Tse dan aliran filsafat lainnya dari segala jenis serta timbulnya kebudayaan pedagang kota yang jelas terlihan sangat berbeda dari kebudayaan kelas samurai yang berkuasa. Kebudayan ini berpusat di tempat-tempat hiburan kota, tempat para pedagang, yang santai bersama penghibur-penghibur professional yang di sebut Geisha dalam zaman modern. Dalam lingkungan yang bebas dari penguasa-penguasa feodal ini timbul seni, teater dan sastra yang berbeda dari seni yang dipupuk oleh kaum samurai. Seni kebudayaan pedagang ini di kenal sebagai                     Ukiyo-e. ”Gambar-gambar dunia yang berlalu”teater kebudayaan pedagang ini  pertama-tama terbatas pada pertunjukan sandiwara boneka, tetapi pada waktunya drama kubuki dengan actor-aktor manusia lebih terkenal.

Jepang,jauh dari sebutan masyarakat yang tidak memiliki daya gerak dalam isolasinya, tetaplah mampu melaksanakan perubahan besar secara terus menerus.

Iklan

2 Komentar

  1. uhm… sangat menarik, bisa buat bahan tugas.. trims 4 all 🙂

    • sama-sama….
      salam kenal…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s