Taman Kota atau Taman Dosa?

Sejak H. Yudhi Wahyuni menjabat sebagai walikota, kota Banjarmasin sedikit demi sedikit sudah mengalami kemajuan dalam segi infrastruktur karena beliau banyak melakukan perubahan-perubahan yang salah satunya adalah rehabilitasi terhadap tatakota Banjarmsin yang dulunya bisa dikatakan sangat semeraut. Sebagai contoh dapat kita lihat daerah sekitar Jl. S. Parman yang dulunya got-got (saluran air) yang ada dijalan tersebut hampir tidak berfungsi, tetapi dapat kita lihat sekarang sudah banyak mengalami kemajuan yang sangat jelas dan hampir tidak ada lagi genangan air bila hujan mengguyur daerah tersebut.

Contoh lain adalah keadaan trotoar yang ada di Jl. H. Hasan Basri, walaupun tidak semua dilakukan rehabilitasi tetapi sudah ada kemajuan jika dibandingkan dengan keadaan sebelum beliau memegang tampuk pimpinan sebagai walikota Banjarmasin. Walaupun begitu, daerah sekitar Gedung Wanita sampai daerah Kejaksaan saja yang mendapat perhatian jika dilihat dari daerah kejaksaan sampai menuju daerah Kayu Tangi Ujung (RS Ansyari Shaleh) keadaan daerah tersebut tidak mengalami perubahan yang berarti, sampah-sampah dan genangan air sewaktu hujan merupakan pemandangan yang biasa kita jumpai. Apalagi daerah sekitar lapangan bola Kayu Tangi (Lapangan Merah), sangat banyak sampah yang menumpuk disana bahkan saluran air disana tidak berfungsi karena terumbat sampah halini disebabkan banyaknya warung-warung yang ada dipinggir jalan tersebut.


Disisi lain, pengaturan pasar yang ada di Banjarmasin juga mengalami perubahan contohnya adalah pengaturan pasar yang dijalan Pasar Baru yang biasa disebut Pasar Lima (Pasar Harum Manis) yang dulunya para pedagang yang berjualan dipinggir jalan bahkan ada yang memakan badan jalan ditertibkan oleh Satuan Pamong Praja dan truk-truk pengangkut barang dilarang masuk pasar sebelum jam 15.00 serta daerah parkir yang dulunya 3 berbanjar dikurangi menjadi 2 berbanjar saja, hal ini intuk mengurangi kemacetan disekitar pasar tersebut.

Dilain pihak, para pedagang kakilima yang menjajakan barang dagangannya dipinggir jalan sering memdapat perhatian dari beliau. Dalam hal ini, H. Yudhi Wahyuni mengeluarkan kebijakan agar para pedagang kakilima yang menjajakan barang dagangannya dibawah jam 15.00 akan ditertibkan oleh Satuan Pamong Praja. Sebagai bukti hampir tidaka ada lagi para pedagang yang menjajakan dagangannya dibawah jam yang sudah ditentukan tadi. Keberhasilan kebijakan itu dapat kita lihat didaerah sekitar jalan H. Hasan Basri khususnya daerah sekitar Universitas Lambung Mangkurat.


Selain mengadakan rehabilitasi dibidang infrastruktur, bapak walikota juga membangun taman-taman kota yang mana pembangunan taman kota tersebut terpusat didaerah sekitar kantor gubernuran dan walikota saja mungkin supaya tidak malu apabila ada tamu daerah yang mengunjungi daerah dan mau “pamer” kepada tamu daerah tersebut bahwa Banjarmasin juga mempunyai taman kota. He…He…He…


Sebenarnya pembanguna taman kota tersebut sangat baik karena Banjarmasin hampir tidak mempunyai “paru-paru” kota yang mana daerah yang dulunya sejuk kini berubah menjadi pusat pertokoan yang megah-megah. Disamping sisi baik yang timbul akibat pembangunan taman kota tadi, ada juga sisi buruknya yakni penyalahgunaan taman kota itu oleh segelintir orang. Orang yang datang ketaman tersebut hampir semuanya mempunyai pikiran yang kotor karena keberadaan taman tersebut sangat mendukung terlebih-lebih pada malam hari ditambah lagi kurangnya penerangan serta tidak adanya keamanan taman.

Kita ambil contoh pada malam minggu, yang mana orang menyebutnya sebagai malam yang panjang bagi muda-mudi. Bias any para remaja yang pergi dan ngumpul-ngumpul didaerah tersebut datang kesanan bersama dengan pasangan masing-masing (pacar) yang lebih gilanya lagi adal;ah adanya tempat parkir ilegal yang memasang tariff Rp. 1.000,- untuk setiap kendaraan. Biaya ini cukup murah untuk mendapatkan tempat yang “strategis” untuk pacaran, bahkan ada yanga bermesraan disana tanpa menghiraukan orang-orang yang lewat.


 Selain menjadi tempat yang sangat nyaman untuk para remaja, keberadaan taman kota juga “menyediakan” lahan untuk para PSK jalanan. Biasanya para PSK tersebut menunggu dipinggir jalan sekitar taman tersebut bahkan ada diantara mereka yang berani menawarkan jasanya kepada setiap laki-laki yang lewat. Kurangnya penerangan dan tidak adanya keamanan taman yang berjaga-jaga disana, seolah-olah keberadaan PSK tersebut sangat bebas dan tidak ada “gangguan” dari aparat keamanan. Selain itu, taman kota juga menjadi lahan bagi para pengemis (terutama anak kecil) para preman yang biasanya bermotif mengamen tetapi kalau tidak diberi mereka sering marah dan mereka tidak segan-segan memalak orang yang sedang santai disana.


 Peranan keamanan ditaman kota ini (polisi dan satuan pamong praja)pada awalnya bisa dikatakan tidak berjalan, karena menurut pantauan senidiri aparat keamanan tidak menangkap para remaja. PSK jalanan. Pengemis dan preman tersebut tetapi mereka cuma mengusuir (menakut-nakuti saja) atau menyuruh mereka supaya bubar. Karena tidak adanya sanksi yang tegas, maka tidak lama kemudian para remaja, PSK jalanan, pengemis dan para preman kembali lagi ketempat tersebut. Selain dijadikan tempat untuk berbuat maksiat, ternyata kebersihan disana juga sangat tidak terjaga mungkin hal ini disebabkan tidak adanya penjaga taman yang ditempatkan disana.


Kepada Pemerintah Kota diusulkan supaya membuat Peraturan Daerah (PERDA) yang mengatur tentang perbuatan asusila didepan umum khususnya yang dilakukan oleh para remaja dan PSK tadi serta menertibkan para pengemis dan preman yang biasa mangkal disana. Pembuatan perda tersebut supaya para remaja dan PSK tadi tidak menjadikan taman kota sebagai tempat maksiat dan tidak disalah gunakan olehoknum-oknum tertentu.

 Disamping pembuatan perda, pemkot juga harus memberi penerangan serta menempatkan keamanan ditaman kota tersebut. Selain itu, pemerintah kota Banjarmasin agar segera menertibkan pengelolaan parkir yang ada ditaman kota tersebut yang mana pada dasarnya pengelolaan parkir tersebut dipegang oleh para preman  Pembuatan perda dan penertiban pengelolaan parkir tersebut supaya para masyarakat yang datang kesana merasa nyaman dan tidak risih lagi melihat para remaja yang dulunya menjadikan taman kota sebagai tempat berpacaran. Disisi lain supaya kita tidak malu kalau ada tamu daerah yang jalan-jalan ditaman kota tersebut terlebih-lebih pada malam hari karena orang bijak ada yang mengtakan “perbuatan masyarakat suatu daerah adalah cermin dari daerah tersebut”

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s