Catatan Awal

Hari ini seperti biasa, helmiansyah bangun pagi dan siap-siap untuk pergi berangkat kesekolah. Hari ini terasa sangat spesial sekaligus bercampur dengan sedikit keketidakpercayaan. Hari ini memang hari yang tidak pernah terjadi dalam hidupku karena hari ini akan melakukan pekerjaan yang sangat aku idamkan yaitu mengajar.

Dengan celana hitam dan baju putih polos aku mulai bersiap untuk pergi untuk melaksanakan salah satu kewajiban untuk menyelesaikan program S1ku yakni Praktek pengalaman lapangan (PPL) II yang dilakukan disalah satu sekolah swasta yang ada di Banjarmasin. Sangat berbeda dengan PPL I, karena pada saat ini aku tidak hanya melakukan observasi kelapangan lalu pulang lagi kerumah. Melainkan aku harus menjadi seorang pengajar, guru (orang yang digugu dan ditiru).

Campuran rasa deg-degan dan rasa senang menjadi menu utama dalam perasaanku pada saat ini dan pada saat pertama mengijakkan kaki disekolah rasa itu runtuh seiring dengan menegurnya seorang murid “selamat pagi pak!”. Sebutan itu aku tempatkan sebagai penyemangat dan pengganti rasa grogiku karena aku merasa tidak pantas menjadi seorang guru yang menjadi orang yang digugu dan ditiru oleh anak murid.

Saat disambut oleh kepala sekolah dan koordinator PPL dilaboratorium IPA saya dan teman-teman PPL yang lain dipersilahkan memilih tempat sebagai base camp kami selama praktek disana. Setelah berkeliling disekolah, teman-teman sepakat untuk memilih perpustakaan sebagai tempat kami untuk berkumpul.

Hal yang sangat mencengangkan dapat ditemui disan, karena jumlah buku yang ada disana sangt sedikit hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah murid yang ada disana yang hampir mencapai 600 orang. Hal ini ditambah juga dengan keadaan perpustakaan yang berada diantara kelas VII dan kelas VIII serta sangat minimnya pengunjung untuk datang kesana. Mungkin itu hanya sekedar bagian kecil yang ada disekolah tempat aku melaksanakan PPL II.

Setelah beberapa saat duduk-duduk dan sedikit membaca buku diperpustakaan, bel istirahat pun berbunyi. Bunyi bel tersebut disambut riang dengan teriakan siswa-siswa yang ada disana. Setelah beberapa menit berlalu, bel masuk pun kembali berbunyi dan semua siswa masuk kekelas masing-masing.

Dengan langkah yang tegap supaya terlihat sedikit berwibawa aku melangkah kekantin sekolah untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Hal yang sangat mencengangkan kembali aku temui karena sesaat sampai dikantin aku cuma menemui sebuah warung yang kapasitasnya kalau dibandingkan dengan jumlah muridnya tadi hanya dapat menampung seperempatnya saja ditambah dengan keadaan dapur kantin yang jauh dikatakan bersih. Keberadaan kantin sekolah itu hanya dibantu oleh satu koperasi dan satu kios penduduk setempat yang besarnya juga tidak lumayan.

Salah satu yang dapat diacungkan jempol dari sekolah tempat aku praktek mengajar adalah kebersihan sekolah yang sangat dijaga oleh siswa, guru, staf tata usaha dan satpam setempat. Hal ini dapat ditemui dengan banyaknya WC yang disediakan buat murid dan kebersihannya pun dijaga baik oelh mereka, hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan keadaaa kampusku yang jumlah Wcnya sangat tidak sesuai dengan jumlah mahasiswanya dan kebersihannya pun tidak terjaga.

Setelah bel istirahat kedua berbunyi, aku dipanggil oleh kepala sekolah keruangan beliau. Setelah sampai disana aku disuguhkan sebuah buku paket salah satu mata pelajaran yang bukan bidangku. Bersamaan dengan menyerahkan buku tersebut beliau meyuruh aku untuk mengisi kelas yang kosong. Perasaan yang aku temukan pada saat pertama aku menginjakkan kaki disekolah itupun kembali melejit didadaku. Dengan langkah yang lumayan berat aku menuju kekelas yang dimaksudkan oleh kepala sekolah. Setalah sampai dikelas aku mulai menyampaikan materi yang ada walaupun dengan terbata-bata karena mata pelajarannya sungguh asing diotakku.

Setalah selesai menjelaskan salah satu murid perempuan mengacungkan tangan dan bermaksud bertanya tentang materi yang disampaikan. Karena tidak menguasai pelajaran aku menjawab pertanyaan tersebut dengan sedikit mengarang walaupun aku tahu semuanya adalah bohong. Alangkah terkejutnya, setelah aku menjelaskan tentang pertanyaan sang murid simurid mengangguk tanda mengerti.

Setelah beberapa saat aku beada didalam kelas, akhirnya bel pulang berbunyi juga. Akupun membereskan semua buku yang ada dihadapanku dan mempersilahkan para siswa untuk pulang. Saat aku meninggalkan kelas aku kembali terpikir tentang pertanyaan murid tadi yang aku jawab dengan sembarangan dan anehnya lagi sang murid menerima (hooh aja). Kejadian itu membuat aku sadar bahwa pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan yang sangat sulit karena disatu sisi kita harus dituntut untuk lebih pintar dihadapan murid dan disatu sisi kita harus melawan diri sendiri untuk bersikap jujur bahwa kita tidak menguasai materi. Kalau tidak jujur seperti yang aku lakukan tadi maka ilmu yang didapat oleh murid tadi ilmu yang salah.

Atas kejadian itu aku sadar bahwa seorang guru harus jujur dengan murid, kalau tidak bisa menjawab katakan saja tidak bisa jangan membuat jawaban mengada-ada seperti yang kulakukan tadi karena anggapan murid guru adalah orang yang maha tahu.

Iklan

1 Komentar

  1. Yoi sip fren. Jadi guru itu harus jujur. Ente ngajar waktu itu kagak mandi khan? hehehe, Jujur aja


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s